Tidak Ada Kata Terlambat untuk Memulai Kebaikan
Dahulu aku adalah seorang siswi dari
SMAN 1 Makassar yang notabene terkenal dengan sekolah anak orang-orang kaya ,
anak-anak gaul, anak mobil-mobil , senioritas dan beberapa gelar semacam itu
lainnya. Yah, aku sempat minder untuk
daftar ulang di sekolah ini karena hal itu. Tapi Allah menakdirkanku untuk
bersekolah disana. Pernah aku mengikuti kajian jumat dan mendengar salah satu
hadist rasulullah yang mengatakan “barang siapa
yang dikehandaki Allah banyak-banyak kebaikan kepadanya, maka Allah akan
memahamkannya pada ilmu agama”, sejenak aku berfikir bahwa jangan-jangan Allah
tidak menghendaki kebaikan kepadaku karena saat ini aku belum juga di pahamkan
dengan ilmu agama, disitulah aku berfikir untuk benar-benar ingin paham ilmu
agama. Yah, dan Alhamdulillah di penghujung masa-masa sekolahku disana, aku
mengenal yang namanya ‘Tarbiyah’, disanalah aku pertama kali mengenal
yang namanya majelis ilmu. Perlahan-lahan pikiranku mulai terbuka akan ilmu
agama. Namun, kusadari aku belum bersunggh-sungguh dalam menuntut ilmu,
mencatat pun aku jarang.
Tibalah saat-saat mendekati UN,
seorang junior bernama Fadhilah hampir setiap hari menjemputku untuk ikut
ta’lim di unhas, 1001 macam alasan telah kucoba untuk menolak ajakannya itu,
namun dia punya 1002 solusi atas segla alasanku. Maasyaa Allah.. semoga rahmat
dan kasih sayang Allah slalu tercurahkan kepadanya. Disitulah saat pertamakali
aku menyukai majelis ilmu walaupun pada awalnya aku terpaksa namun setelah itu
menjadi terbiasa dan akhirnya menjadi sebuah kenikmatan. Kudapati hati ini
selalu tenang setiap berada didalamnya hingga aku selalu rindu untuk berada
disana kembali. Hidupku terasa lebih berarti. Hingga kusadari aku berubah
perlahan-lahan. Yang dahulu perwakanku seperti seorang anak laki-laki, kini
berubah menjadi sedikit keperempuanan hehehehe. Dahulu yang tak pernah memakai
jilbab kini sudah berjilbab, dahulu aku yang tak bisa memakai rok (bahkan 1 rok
pun aku tak punya) kini mulai pakai rok, kuabaikan segala rasa malu karena ilmu yang sudah
sampai kepadaku bahkan sudah sampai di relung hatiku (eaaaa’). Teringat nasihat
dari salah satu teman halaqahku bernama muthmainnah yang mengatakan ‘jika engkau pernah merasa saaaangat lelah
hingga air keringat bercucuran di tubuhmu karena urusan dunia, maka engkau
harus lebih lelah dari pada itu untuk urusan akhiratmu!!’ terkadang nasihat
tersebut membuatku tertampar karena terlalu sibuk dengan dunia (sekolah, tugas
yang membuatku begadang tiap malam), walaupun aku sering mengikuti ta’lim, tapi
tetap saja aku lebih sibuk kepada dunia dari pada akhirat. Jika kuingat nasihat
itu lagi rasanya aku ingin melelahkan tubuhku ini kepada urusan akhirat.
Qaddarullah, aku tak ditakdirkan
untuk kuliah langsung setelah lulus SMA. Yah, aku merantau ke desa kecil
bergelar “kampoeng Inggris” di Pare, Kediri, Jawa Timur. Sungguh saat itu aku
merasa ini adalah keadaan yang berat untukku namun disinilah aku sadar Allah
begitu menyayangiku, Allah menakdirkanku memiliki teman-teman shalihah,
murobbiyah yang senantiasi mendidik dan menasehati, mudarrisah yang begitu
perhatian dalam urusan agamaku. Karena disaat-saat aku merasa down karena tak lulus kuliah
tahun itu, begitu banyak orang yang men-supportku hingga aku merasa itu
bukanlah masalah yang amat berat. Just enjoyed it. Saat berada di perantauan,
begitu banyak saudari-saudari yang selalu menelfonku sekedar menanyakan kabar
keimananku. Bahkan begitu banyak saudari yang tak pernah aku berkenalan dan
berjumpa dengannya saat di Makassar pun turut menelfonku sekedar memberi
beberapa kalimat berisi nasihat indah. Syukran jaazakumullahu khairan. Seringkali aku menangisi kondisi keimananku
disana. Padahal sewaktu aku berada dimakassar, aku tak pernah menangis seperti
itu. Alhamdulilah setidaknya aku pernah merasakan kelezatan iman. Mudarrisahku masih
sering mengajarku tahsin baik via telefon maupun via skype, akupun masih
terbiyah via telfon (namun kurang dapat feelnya) selain itu aku ikut tarbiyah dari
organisasi lain disana yang rata-rata teman halaqahku adalah lulusan s1 dan s2,
Alhamdulilah Allah selalu mencondongkan hati ini kepada majelis ilmu. Aku
sedikit sudah merasa aman.
Hari demi hari kulewati menuntut ilmu bahasa
inggris (pelajaran yang dahulu sangat ku benci) ditambah lagi aku mengikuti
bimbel di BIAS (Belajar Itu Asik Sekali).
Yah, begitu sibuk dengan dunia. Alhamdulillah sang mudarrisah mengirimkanku banyak buku-buka
agama. Kadang aku merasa terharu hehe
maasyaa Allah.. semoga beliau senantiasa disayang oleh Allah. Nah! Di BIAS kami
diajarkan metode belajar yang baru. Kami dibiasakan untuk mengejar ilmu bukan mengejar
nilai, Pahami ilmu, menghafalkan ilmu
dan mangajarkan ilmu. Aku sangat beruntung pernah belajar disana, karena saat
disanalah mindsetku tentang belajar seketika berubah. Walaupun aku sangat kesulitan
untuk merubah mindset ku ini bahkan sering aku merasa ingin menyerah namun
teringat lagi Allah menyukai hamba yang Kuat, bukan hamba yang lemah, dan
mintalah kepada Allah jika kamu merasa tidak mampu. saat diBIASlah pertama kali
aku merasakan betapa pedihnya belajar, betapa butuhnya kita kepada Allah untuk
memahamkan kita sebuah ilmu, betapa beratnya menjaga ilmu tersebut agar kita
tak lupa , dan betapa susahnya memahamkan orang lain atas ilmu yang kita sudah
ketahui. Dahulu aku adalah orang yang sangat tidak percaya diri mengajar orang
lain namun sekarang perlahan-lahan aku mulai mencobanya karena teringat nasihat
guru kami ‘ilmu itu semakin diajarkan maka semakin bertambah dan melekat di
otak’. Begitu banyak kenangan indah yang kulewati di desa kecil itu.
Setahun
berlalu. Akhirnya aku kembali lagi ke kota asalku untuk melanjutkan studyku.
Dan Alhamdulillah aku lulus di universitas negeri Makassar (UNM). Sesampinya
aku disini, aku mulai merangkai segala mimpi-mimpiku. Apa yang aku inginkan,
kapan aku ingin mengapainya, agar tak sedetikpun berlalu begitu saja. Karena
tak mau lagi aku berjalan tanpa arah, karna tak mau lagi aku hanya tinggal diam
, karna tak mau lagi aku hanya menjadi biasa biasa saja. Selama kaki masih bisa
berjalan , selama mata masih bisa melihat, selama telinga masih bisa mendengar,
selama hati masih bisa merasakan kebenaran dan kebathilan, Yah, karna boleh
jadi, esok aku tak mempunyai itu lagi. Karena Allah memberikan kita semua
nikmat ini untuk dipergunakan semaksimal mungkin kearah yang lebih baik. Yah, aku ingin merubah segalanya menjadi
lebih baik. Semoga Allah memudahkan. In syaa Allah
Dengan
tekad tersebut aku mulai melangkah. Dan selalu kuingat “barang siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia maka hendaklah ia
menggapainya dengan ilmu, barang siapa yang menghendaki kebahagiaan akhirat
maka hendaklah ia menggapainya dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki
keduannya maka hendaklah ia menggapainya dengan ilmu”. Semoga semangat itu
selalu menggebu-gebu dalam hatiku hingga dapat menggerakkan prajurit anggota
badanku. Semoga Allah mengistiqamahkanku dijalan ini. Dan kuharap kuharap
kakiku dapat bergeser dari neraka ketika aku ditanya oleh Allah tentang ilmuku,
apa yang sudah aku amalkan. Dan semoga Allah selalu menuntun ku kejalan yang Ia
ridhai. Aamiin.
-Makassar, dalam masa penantian PMB Universitas -

Komentar
Posting Komentar